Indahnya Kota Pangkalpinang Kota Kenangan yang Penuh Harapan Menyongsong Masa Depan
Artikel ini mengisahkan tentang salah seorang Blogger yang mempunyai kisah kenangan yang haru dan mengesankan tentang kota kita tercinta ini, Kota Pangkalpinang. Berikut dibawah ini petikan artikel yang di tampilkan dari Blog Cerita-Cerita Leila;
Awal Mulai Cerita
🔊Kite ke aik panas, maen ke Pantai Matras
🔊Kite ke Pangkal Pinang Pasir Padi
Potongan lirik lagu dari band Klaki itu mengalun lagi sore ini, membawa kenangan akan sebuah kota di mana saya dan suami pernah bertugas. Ya, kota Pangkalpinang menjadi lokasi ‘bulan madu’ kami selama lebih kurang empat tahun lamanya. Kalau dibahas, pesonapangkalpinang seolah tak ada habisnya.
Kota Pangkalpinang merupakan ibukota dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terbentuk pada tahun 2001 dengan Kota Pangkalpinang sebagai ibukota provinsi. Provinsi ini terdiri dari 1 kota dan 6 kabupaten, yaitu Kabupaten Bangka (sering disebut juga sebagai Bangka Induk, dengan ibu kota Sungailiat), Kabupaten Bangka Barat (dengan ibu kota Muntok), Kabupaten Bangka Tengah (dengan ibu kota Koba), Kabupaten Bangka Selatan (dengan ibu kota Toboali), Kabupaten Belitung (dengan ibu kota Tanjung Pandan), Kabupaten Belitung Timur (dengan ibu kota Manggar), dan Kota Pangkalpinang (dengan ibu kota Pangkalpinang).
Akses Mencapai Pangkalpinang
Untuk mencapai kota Pangkalpinang dari Jakarta, perjalanan udara memakan waktu sekitar satu jam. Bandara tujuannya adalah Bandara Depati Amir. Kini semakin banyak maskapai penerbangan yang melayani jalur ini dengan jadwal yang bervariasi. Harga tiket biasanya akan naik drastis pada hari-hari raya keagamaan nasional, liburan sekolah, dan sekitar hari pelaksanaan Ceng Beng atau sembahyang kubur bagi masyarakat Tionghoa yang menjadi kesempatan pulang menziarahi makam leluhur sekalipun sudah merantau jauh. Rute udara lain menuju Bangka-Belitung adalah melalui Palembang atau Batam, tetapi pesawat tidak tersedia setiap hari. Dari Pulau Bangka ke Pulau Belitung atau sebaliknya, selain menggunakan pesawat (tidak setiap hari ada) tersedia juga penyeberangan dengan kapal jetfoil.
Alternatif lain menuju Provinsi Bangka Belitung adalah menggunakan kendaraan pribadi atau bus. Waktu tempuh dari Palembang menuju Bangka membutuhkan waktu hampir satu hari. Untuk menyeberang dengan kapal feri dari Pelabuhan Boom Baru di Palembang ke Pelabuhan Tanjung Kalian Muntok, Bangka Barat membutuhkan waktu 3 jam. Jika menggunakan kendaraan pribadi akan lebih mudah mencapai lokasi-lokasi wisata di provinsi ini, karena jarang tersedia angkutan umum. Bagi yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, pilihannya adalah menyewa kendaraan atau mengikuti paket tur yang disediakan agen perjalanan.
Indahnya Kota Pangkalpinang
Panorama alam menjadi salah satu sumber utama wisata di Pangkalpinang. Layaknya suatu daerah, Kota Pangkalpinang juga memiliki beberapa landmark atau hal yang menjadi penanda sekaligus ciri khas bagi suatu daerah. Beberapa landmark dan objek wisata yang sering kami kunjungi di kota Pangkalpinang dulu adalah:
Taman Merdeka

Taman Merdeka ini sebelumnya adalah sebuah lapangan berumput dengan nama Lapangan Merdeka. Lapangan Merdeka awalnya merupakan perwujudan salah satu unsur tata kota berprinsip macapat (empat penjuru mata angin), yakni alun-alun yang terletak di sebelah selatan Rumah Residen yang menjadi pusat kekuasaan Belanda di Bangka pada masa lalu. Lapangan ini belakangan digunakan sebagai tempat bermain bola (terutama sebelum adanya Stadion Depati Amir) maupun upacara-upacara resmi seperti peringatan hari kemerdekaan RI dan acara perayaan seperti malam pergantian tahun dengan atraksi kembang api dan pelaksanaan salat Id. Sesuai dengan Perda Nomor 2 Tahun 1989, kawasan sekitar Rumah Residen (kini menjadi rumah dinas Walikota Pangkalpinang) dikembangkan menjadi Kawasan Wisata Taman Merdeka. Pada tahun 2009 bentuk lapangan diubah menjadi semacam taman kota dengan ciri khasnya berupa air mancur berbentuk tudung saji.
Pada pagi maupun sore hari, banyak warga yang memanfaatkan Taman Merdeka sebagai tempat olahraga, seperti jogging, bersepeda, dan bermain skateboard. Ada juga yang sekadar bersantai bersama keluarga. Puncak keramaian biasanya terjadi pada malam hari. Mulai 2010, setiap hari Minggu dan hari-hari tertentu kawasan Taman Merdeka ditetapkan menjadi area car free day. Dengan demikian masyarakat diharapkan dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dari keberadaan Taman Merdeka, misalnya dengan mengoptimalkan kawasan tersebut sebagai tempat berekreasi dan berolahraga.
Agar kebersihan dan kerapian Taman Merdeka tetap terjaga, pemerintah daerah melarang penjual makanan menjajakan dagangannya di taman tersebut. Akhirnya para pedagang beralih ke Jalan Rustam Effendie, yang kini menjelma menjadi pusat jajanan kuliner di malam hari dan seolah melengkapi keberadaan Taman Merdeka sebagai sarana wisata pusat kota.

Tugu Pergerakan Kemerdekaan
Tugu Pergerakan Kemerdekaan berlokasi di dalam Taman Sari (dahulu bernama Wilhelmina Park), sebelah barat Rumah Residen/Rumah Dinas Walikota Pangkalpinang. Tugu ini dibuat untuk mengenang perjuangan rakyat Bangka melawan penjajahan Belanda dan diresmikan oleh Moh. Hatta pada bulan Agustus 1949. Prasasti pada tugu tersebut bertuliskan “Surat kuasa kembalinya Ibukota Republik Indonesia ke Yogyakarta, diserahterimakan oleh Ir. Soekarno kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Medio Juni 1949”.
Bentuk tugu terdiri atas lingga di atas punden berundak-undak sebanyak 17 undakan (mencerminkan tanggal 17) bersegi delapan (menggambarkan bulan Agustus) dengan yoni berada di atas lingga dengan bentuk yang simetris dengan simbol mencerminkan perjuangan meraih kemerdekaan yang dilakukan oleh berbagai suku dan lapisan masyarakat Indonesia. Tinggi keseluruhan mulai dari undak terbawah sampai puncak lingga setinggi 7,65 m, terdiri dari tinggi undak dan yoni 1,65 m, tinggi lingga 1,65 m dan tinggi yoni 4,35 m, dengan luas areal tugu 168 m2.
Pantai Pasir Padi

Ombak yang tenang dan air laut yang tidak dalam membuat kegiatan berenang dan bermain air nyaman dilakukan. Tersedia fasilitas untuk cuci-bilas dan beberapa persewaan alat berenang di sini. Dibangun pula sarana outbound dan arena permainan anak untuk melengkapi fasilitasnya. Beberapa bagian pantai ini yang terancam abrasi dilindungi dengan talud yang justru memberikan warna lain bagi pengunjung yang lebih suka duduk-duduk mengamati air laut dari kejauhan.

Di pantai ini terdapat banyak pilihan tempat makan, mulai dari restoran yang menawarkan pengalaman makan di atas kapal hingga kios-kios bakso, jagung bakar, dan kelapa muda yang tersebar di sepanjang pantai. Ada juga hotel bergaya resort yang cocok sebagai tempat pertemuan. Untuk memasuki kawasan Pantai Pasir Padi dikenakan retribusi yang masih berkisar pada angka ribuan rupiah.
Museum Timah

Museum ini merupakan museum teknologi pertimahan satu-satunya di Asia. Didirikan pada tahun 1958, semula bertujuan untuk mencatat sejarah pertimahan di Kepulauan Bangka Belitung kemudian dikembangkan sebagai sarana sosialisasi kepada masyarakat. Museum Timah memamerkan sejarah kegiatan penambangan di kepulauan Bangka Belitung, alat-alat penambangan tradisional/kuno atau yang memiliki nilai sejarah tinggi, yang dapat memperluas wawasan pengunjung museum. Museum Timah resmi dibuka pada tanggal 2 Agustus 1997 oleh Erry Riyana Hardjapamekas, Dirut PT Timah saat itu.

Museum ini sangat informatif dalam menampilkan sejarah panjang penambangan timah di Bangka Belitung yang telah dimulai sejak tahun 1709. Tampak jelas bagaimana perkembangan teknologi penambangan dari masa ke masa, juga pengaruh bangsa-bangsa yang tertarik mengeruk keuntungan dari kekayaan alam ini.
Di luar sejarah pertimahan, dalam museum ini dipajang pula replika prasasti Kota Kapur, prasasti Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di pesisir barat Pulau Bangka tahun 1892. Prasasti bertuliskan aksara Pallawa ini merupakan prasasti pertama Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan.
Masjid Raya Tua Tunu


Jajanan Istimewa
Bukan cuma asyik buat jalan-jalan, Pangkalpinang juga punya kekayaan kuliner yang kaya. Karena Babel secara keseluruhan berupa kepulauan jadi kebanyakan sih berupa hasil laut dan olahannya ya, sebagian yang lain dipengaruhi oleh makanan asal Tiongkok.
Martabak Bangka

Martabak manis atau hoklopan kondang dijajakan di berbagai daerah di
negeri ini dengan nama martabak bangka. Betul, awalnya memang kue
‘bersarang’ ini berasal dari Bangka. Baik dengan topping standar maupun modifikasi, sama-sama lezat untuk cemilan yang cukup mengenyangkan.
Otak-otak Bangka
Penganan otak-otak yang terbuat dari ikan (biasanya ikan tengiri) ini memang bukan hanya ada di Bangka, tetapi otak-otak Bangka punya kekhasan pada saus sambalnya yang menggunakan tauco dan cenderung encer (lebih mirip kuah).
Keritcu

Keripik telur cumi alias keritcu ini sesuai namanya dibuat dari telur
cumi. Kadang saking kangennya saya titip pada teman yang bertugas di
sana untuk mengirimkannya ke sini. Semasa di sana, saya pernah
mengunjungi salah satu sentra pembuatannya sebagai bagian dari rangkaian
KKN untuk mencapai gelar S1.
Siput Gung Gung

Katanya sih dimakan dalam bentuk tumisan/masakan yang disajikan dalam
bentuk cenderung masih basah bisa, tapi selama di sana saya tahunya
siput gung gung/gonggong ini dalam bentuk keripik. Renyah dan bumbunya
pas deh, cocok dijadikan cemilan.
Kembang Tahu
Ini makanan yang kalau di daerah asal saya di Jateng sana diistilahkan dengan ‘tahuk’. Di Pangkalpinang akhirnya saya mencicipi lembutnya ‘puding tahu’ dengan kuah manis pedas jahe yang dijajakan bapak-bapak keliling dengan label ‘thew fu fa’, beberapa pekan sebelum kami pindah ke Jakarta.
Pantiaw kuah ikan

Pantiauw ini makanan yang mirip kwetiaw kalau kata kawan saya dari
Belitung, tapi saya pernah melihat penjualnya memotong-motong dari
bentuk seperti dadar, bukan dari alat semacam ‘pasta maker’ atau ditarik
macam mie tradisional. Yang istimewa adalah kuahnya yang berisi daging
ikan yang sudah dihaluskan, gurihnya itu lho… Ada juga pantiaw goreng,
tapi saya lebih suka yang kuah.
Wastra Khas

Kalau Sumatra Selatan sebagai provinsi yang dulu menaungi Bangka Belitung sebelum menjadi provinsi tersendiri punya songket, Bangka juga punya tekstil khas berupa kain cual. Kain ini aslinya juga berupa hasil tenunan dengan alat tenun bukan mesin, perpaduan antara tenun sungkit (songket) dan tenun ikat, tapi belakangan semakin populer dipasarkan dan digunakan dalam bentuk batik (khususnya batik cap). Corak batik yang sering dipakai adalah adaptasi dari kain limar muntok. Cual sendiri bermakna celupan awal pada benang yang akan ditenun.


Akhir kata, Semoga Cerita-Cerita Leila gak bosan ke Pangkalpinang kota kebanggan kami ini, Salam dari kami warga sepintu sedulang.

Belum ada Komentar untuk "Indahnya Kota Pangkalpinang Kota Kenangan yang Penuh Harapan Menyongsong Masa Depan"
Posting Komentar