Sejarah Kelenteng Fuk Tet Che Semabung Pangkalpinang Jejak Sejarah Tionghoa di Simpang Empat Kota Update cookies preferences
Banner
BREAKING NEWS
  • Memuat artikel terbaru...

Sejarah Kelenteng Fuk Tet Che Semabung Pangkalpinang Jejak Sejarah Tionghoa di Simpang Empat Kota

Sejarah Kelenteng Fuk Tet Che Semabung Pangkalpinang Jejak Sejarah Tionghoa di Simpang Empat Kota
Sabtu, 05 September 2026

Sejarah Kelenteng Fuk Tet Che Semabung Pangkalpinang  Jejak Sejarah Tua di Simpang Empat Kota

Kelenteng Fuk Tet Che merupakan salah satu bangunan bersejarah yang mudah dikenali di Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Setiap warga pangkalpinang sudah tidak asing lagi dengan keberadannya, letaknya yang berada tepat di kawasan simpang empat Semabung membuat kelenteng ini menjadi salah satu landmark yang selalu menarik perhatian masyarakat maupun pengguna jalan yang melintas. Di balik warna merah dan emas yang menjadi ciri khas bangunannya, tersimpan cerita panjang mengenai perkembangan masyarakat Tionghoa, kawasan Semabung, serta perubahan Kota Pangkalpinang dari kawasan pinggiran menjadi kota yang semakin berkembang.

gambar diambil dari google

Fakta Singkat:
Nama: Kelenteng Fuk Tet Che
Lokasi: Semabung, Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung
Fungsi: Tempat penghormatan kepada Dewa Bumi (Fu De Zheng Shen / Fuk Tet Cin Sin)
Perkiraan usia: sekitar 200 tahun atau sejak abad ke-19
Kawasan sejarah: Semabung dan lingkungan permukiman lama Pangkalpinang

Kelenteng Fuk Tet Che dan Sejarah Semabung

Untuk memahami sejarah Kelenteng Fuk Tet Che, kita perlu melihat terlebih dahulu sejarah kawasan Semabung. Dalam catatan Pemerintah Kota Pangkalpinang, kawasan Semabung dulu dikenal dengan sebutan Yung Fo Hin, istilah dalam dialek Hakka yang merujuk pada kawasan kampung berbukit. emang dulu berbukit teman teman yang sudah lama tinggal di daerah semabung? komen dibawah ya..

Masyarakat Bangka juga mengenal kawasan tersebut sebagai Semabung. Nama Semabung dikaitkan dengan kata sambong atau sambung, karena penduduk awalnya memiliki hubungan dengan kawasan Sambong atau Sambung. Pada masa awal perkembangan Pangkalpinang, Semabung belum berada di tengah kepadatan kota seperti sekarang. Kawasan tersebut merupakan salah satu daerah pinggiran Pangkalpinang. Bahkan, sumber sejarah Pemerintah Kota Pangkalpinang menyebut bahwa Kuburan Semabung dan Kelenteng Fuk Tet Che dahulu berada di kawasan pinggiran Kota Pangkalpinang.

Kelenteng yang Diperkirakan Berusia Sekitar 200 Tahun

Sejumlah sumber menyebut fondasi awal Kelenteng Fuk Tet Che diperkirakan telah ada sejak abad ke-19, atau sekitar 200 tahun lalu. Namun, perlu dicatat bahwa angka usia tersebut lebih tepat disebut sebagai perkiraan berdasarkan sejarah dan penuturan masyarakat, bukan tahun pendirian yang telah dibuktikan melalui sebuah prasasti pendirian yang diketahui secara luas.

Dalam perkembangannya, bangunan kelenteng mengalami berbagai perubahan. Bentuk awalnya disebut jauh lebih sederhana dibandingkan bangunan yang dapat dilihat sekarang. Salah satu sumber sejarah mengenai renovasi menyebut bangunan lama pernah menggunakan bahan sederhana seperti bambu dan atap seng. Dari bangunan sederhana tersebut, Kelenteng Fuk Tet Che kemudian berkembang menjadi bangunan yang lebih besar dan megah seiring bertambahnya masyarakat serta perubahan kawasan di sekitarnya.

Siapa yang Beribadah di Kelenteng Fuk Tet Che?

Sejak awal keberadaannya, Kelenteng Fuk Tet Che berkaitan erat dengan masyarakat Tionghoa di kawasan sekitar Semabung dan Pangkalpinang. Menurut penuturan sejarawan dan budayawan Bangka Belitung yang dikutip sejumlah media, dahulu kelenteng ini menjadi tempat sembahyang bagi masyarakat dari beberapa kampung yang berada di sekitarnya.

Tiga kawasan yang sering disebut dalam sejarah kelenteng ini adalah Tet Fu atau Kampung Besi, Yung Fo Hin atau Semabung, dan Kampung Betur. Keberadaan kelenteng tersebut dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan satu kelompok permukiman, tetapi menjadi tempat ibadah dan penghormatan bersama bagi masyarakat dari kawasan-kawasan lama di sekitar Pangkalpinang.

Makna Nama Fuk Tet Che

Nama Fuk Tet Che memiliki hubungan dengan kepercayaan masyarakat Tionghoa, khususnya tradisi Hakka, terhadap Dewa Bumi atau Fu De Zheng Shen. Dewa Bumi dikenal sebagai pelindung tanah, wilayah dan kehidupan masyarakat. Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, penghormatan kepada Dewa Bumi memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari dan lingkungan tempat seseorang tinggal.

Karena itulah, keberadaan kelenteng yang didedikasikan kepada Dewa Bumi mempunyai makna lebih luas daripada sekadar sebuah bangunan tempat sembahyang. Kelenteng juga menjadi simbol hubungan masyarakat dengan tempat tinggal, tanah dan lingkungan.

Mengapa Kelenteng Berada di Simpang Empat Semabung?

Salah satu hal yang membuat Kelenteng Fuk Tet Che menarik adalah lokasinya yang berada di titik persimpangan jalan yang sangat strategis. Jika melihat kondisi Pangkalpinang sekarang, lokasi tersebut tampak seperti berada di tengah kota. Tetapi pada masa lalu, kawasan itu merupakan wilayah pinggiran.

Posisi kelenteng juga mempunyai cerita tersendiri. Menurut Ahmad Elvian, posisi Kelenteng Fuk Tet Che yang menghadap ke arah jalan berkaitan dengan fungsinya sebagai tempat sembahyang bagi masyarakat dari tiga kampung yang berada di sekitarnya. Sementara itu, penuturan dari pihak yang terlibat dalam renovasi kelenteng menyebut bahwa arah bangunan menghadap ke pusat Kota Pangkalpinang karena pada masa dahulu wilayah tersebut masih berada di pinggiran kota.

Catatan sejarah Open Ai:
Cerita mengenai posisi kelenteng dan kawasan sekitarnya berasal dari penuturan sejarawan, budayawan dan masyarakat. Karena itu, bagian-bagian yang berupa cerita lisan sebaiknya dipahami sebagai warisan sejarah lokal yang masih hidup di tengah masyarakat.

Dahulu Lokasi Kelenteng Berkaitan dengan Perkuburan Tionghoa

Salah satu cerita yang paling menarik mengenai sejarah Kelenteng Fuk Tet Che adalah mengenai kondisi kawasan tersebut pada masa lalu. Beberapa sumber menyebut bahwa kawasan tempat kelenteng berdiri dahulu berkaitan dengan perkuburan masyarakat Tionghoa. Cerita tersebut juga muncul dalam penuturan masyarakat dan pihak pengurus kelenteng.

Ada pula cerita mengenai makam warga bermarga Boen yang oleh sebagian masyarakat dipercaya memiliki kaitan dengan sejarah awal Kota Pangkalpinang. Cerita semacam ini merupakan bagian dari tradisi sejarah lisan masyarakat setempat. Meski demikian, kisah tersebut perlu dibedakan dari fakta sejarah yang telah terdokumentasi. Untuk memastikan secara akademis mengenai identitas makam dan hubungan tokoh tersebut dengan pendirian Pangkalpinang, diperlukan penelitian sejarah dan arkeologi lebih lanjut.

Kelenteng Fuk Tet Che Pernah Mengalami Kebakaran

Perjalanan sejarah Kelenteng Fuk Tet Che tidak selalu berjalan mulus. Salah satu peristiwa penting dalam sejarah modern kelenteng ini adalah kebakaran pada tahun 2015. Kebakaran tersebut menyebabkan bangunan dan berbagai bagian di dalam kelenteng mengalami kerusakan berat. Setelah musibah tersebut, dilakukan upaya pembangunan kembali. Peristiwa kebakaran kemudian menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan kelenteng karena masyarakat dan para donatur bersama-sama berusaha mengembalikan keberadaan tempat ibadah tersebut.

Pembangunan Kembali dan Gotong Royong Masyarakat

Setelah kebakaran, proses pembangunan kembali dilakukan dengan dukungan masyarakat dan para donatur. Salah satu laporan mengenai pembangunan kembali menyebut terdapat sekitar 800 orang donatur yang memberikan sumbangan untuk pembangunan Kelenteng Fuk Tet Che. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa keberadaan kelenteng memiliki arti penting bagi komunitas yang mendukungnya. Pembangunan kembali tidak hanya menjadi proses memperbaiki bangunan, tetapi juga menjadi bentuk gotong royong untuk mempertahankan warisan budaya dan sejarah lokal.

Kembali dengan Nama Fuk Tet Che

Dalam perjalanan sejarahnya, kelenteng ini pernah dikenal dengan nama Vihara Satya Budhi, terutama pada masa ketika penggunaan identitas dan istilah keagamaan masyarakat Tionghoa mengalami perubahan dalam konteks kebijakan pada masa Orde Baru. Setelah pembangunan kembali pascakebakaran, nama Fuk Tet Che kembali digunakan. Dengan demikian, nama tersebut bukan sekadar nama bangunan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan identitas sejarah dan tradisi yang telah diwariskan selama beberapa generasi.

Arsitektur Merah dan Emas yang Menjadi Ikon Semabung

Kelenteng Fuk Tet Che yang sekarang dapat dilihat memiliki tampilan yang jauh lebih megah dibandingkan gambaran bangunan awalnya. Warna merah dan emas menjadi elemen visual yang sangat kuat. Pada malam hari, pencahayaan membuat bangunan kelenteng semakin mencolok di tengah lalu lintas kawasan Semabung. Detail ornamen, ukiran, dekorasi dan penggunaan warna khas kelenteng membuat bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi salah satu objek visual yang mudah dikenali di Pangkalpinang.

Kelenteng Fuk Tet Che sebagai Penanda Perkembangan Kota Pangkalpinang

Hal yang paling menarik dari sejarah Kelenteng Fuk Tet Che sebenarnya bukan hanya tentang usianya. Kelenteng ini menjadi saksi perubahan wajah Kota Pangkalpinang. Dahulu, lokasi kelenteng berada di kawasan pinggiran kota. Jalan-jalan di sekitarnya belum seramai sekarang. Kawasan Semabung juga belum menjadi salah satu kawasan penting seperti yang dikenal masyarakat saat ini.

Seiring pertumbuhan Kota Pangkalpinang, kawasan yang dahulu berada di pinggiran akhirnya menjadi bagian dari wilayah perkotaan yang ramai. Dengan demikian, ketika seseorang berhenti di lampu merah Semabung dan melihat Kelenteng Fuk Tet Che, sebenarnya ia sedang melihat sebuah bangunan yang telah menyaksikan perubahan kota selama waktu yang sangat panjang.

Warisan Sejarah dan Kerukunan Masyarakat

Kelenteng Fuk Tet Che juga menarik untuk dilihat dalam konteks kehidupan masyarakat Pangkalpinang yang beragam. Penelitian mengenai keberadaan Kelenteng Fuk Tet Che dan Masjid At-Taqwa di kawasan yang sama menunjukkan adanya kehidupan masyarakat yang mengedepankan kerukunan, saling membantu dan gotong royong. Keberadaan tempat ibadah dari latar belakang yang berbeda di kawasan Semabung menjadi bagian dari cerita sosial Kota Pangkalpinang. Sejarah sebuah kota tidak hanya dibentuk oleh gedung pemerintahan, jalan dan pusat perdagangan, tetapi juga oleh tempat ibadah serta masyarakat yang hidup berdampingan di sekitarnya.

Kesimpulan

Kelenteng Fuk Tet Che Semabung Pangkalpinang bukan hanya sebuah kelenteng yang berdiri di simpang empat jalan. Ia merupakan bagian dari sejarah panjang masyarakat Tionghoa di Bangka, sejarah kawasan Semabung dan perkembangan Kota Pangkalpinang. Diperkirakan telah ada sejak abad ke-19, kelenteng ini telah mengalami berbagai perubahan, termasuk kebakaran pada 2015 dan pembangunan kembali setelahnya. Dari bangunan sederhana hingga menjadi bangunan megah seperti sekarang, perjalanan Fuk Tet Che menunjukkan bagaimana sebuah tempat ibadah dapat bertahan melewati perubahan zaman.

Karena itu, menjaga Kelenteng Fuk Tet Che bukan hanya berarti menjaga sebuah bangunan. Lebih jauh lagi, menjaga kelenteng berarti ikut merawat memori, sejarah, budaya dan keberagaman etnis di Kota Pangkalpinang, Bumi Serumpun Sebalai.

Dibawah ini video ditampilkan dari kanal youtube Deus Caritas Est

 

Catatan untuk pembaca:
Artikel ini menggunakan sejumlah sumber sejarah lokal, pemberitaan dan penelitian mengenai Kelenteng Fuk Tet Che. Beberapa informasi mengenai usia kelenteng, perkuburan lama dan cerita masyarakat merupakan sejarah lisan atau perkiraan yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan kepastian dokumenter."Open Ai"
 
Meta Hastags:
#KelentengFukTetChe #FukTetChe #KelentengPangkalpinang #Semabung #Pangkalpinang #SejarahPangkalpinang #SejarahBangka #BudayaBangka #TionghoaBangka #BangkaBelitung #WisataSejarah #WarisanBudaya #SejarahLokal #BaktiSite
Merawat Rasa, Menjaga Jati Diri Nusantara. Dari Warisan Tradisi, Untuk IndonesiaKu. "A Journey Through Of Indonesian BABEL It's My Island"
  • Blogger
  • Facebook
  • WhatsApp
  • Instagram
  • X
  • Belum ada Komentar untuk "Sejarah Kelenteng Fuk Tet Che Semabung Pangkalpinang Jejak Sejarah Tionghoa di Simpang Empat Kota"

    Posting Komentar

    Memuat waktu...
    Rekomendasi Artikel
    Bakti Site Blogger

    Selengkapnya

    Memuat rekomendasi artikel...

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel